Lompat ke isi

Impala

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Impala
Jantan
Betina bersama anaknya
keduanya di Taman Nasional Kruger, Afrika Selatan
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Artiodactyla
Famili: Bovidae
Tribus: Aepycerotini
Genus: Aepyceros
Spesies:
A. melampus
Nama binomial
Aepyceros melampus
(Lichtenstein, 1812)
Subspesies
  • A. m. melampus Lichtenstein, 1812
  • A. m. petersi Bocage, 1879
Sebaran:
  Impala muka-hitam
  Impala biasa
Sinonim[2]
Daftar
  • A. holubi Lorenz, 1894
  • A. johnstoni Thomas, 1893
  • A. katangae Lönnberg, 1914
  • A. pallah (Gervais, 1841)
  • A. rendilis Lönnberg, 1912
  • A. typicus Thomas, 1893

Impala atau rooibok (Aepyceros melampus, secara harfiah 'tanduk-tinggi berkaki-hitam' dalam bahasa Yunani Kuno) adalah antelop berukuran sedang yang ditemukan di Afrika bagian timur dan Afrika bagian selatan. Sebagai satu-satunya anggota yang masih ada dari genus Aepyceros dan tribus Aepycerotini, hewan ini pertama kali dideskripsikan kepada orang Eropa oleh ahli zoologi Jerman Hinrich Lichtenstein pada tahun 1812. Dua subspesies diakui, impala biasa yang menghuni padang rumput (terkadang disebut sebagai impala Kenya), dan impala muka-hitam yang lebih besar dan lebih gelap, yang hidup di lingkungan semak belukar yang sedikit lebih gersang. Impala dapat tumbuh hingga setinggi 70–92 cm (28–36 in) dari kaki hingga bahu dan berat 40–65 kg (88–143 pon). Hewan ini memiliki rambut yang mengilap dan berwarna cokelat kemerahan. Tanduk jantannya yang ramping dan berbentuk lira memiliki panjang 45–92 cm (18–36 in).

Aktif terutama pada siang hari, impala dapat bersifat gregarius atau teritorial tergantung pada iklim dan geografi. Tiga kelompok sosial yang berbeda dapat diamati: jantan teritorial, kawanan bujangan, dan kawanan betina. Impala dikenal dengan dua jenis lompatan khas yang menjadi strategi anti-predator. Sebagai peramban sekaligus pemakan rumput, impala memakan monokotil, dikotil, forba, buah-buahan, dan polong akasia (bila tersedia). Masa kawin tahunan selama tiga minggu terjadi menjelang akhir musim hujan, biasanya pada bulan Mei. Jantan yang sedang birahi bertarung memperebutkan dominasi, dan jantan yang menang akan merayu betina yang sedang estrus. Masa kehamilan berlangsung enam hingga tujuh bulan, yang setelahnya seekor anak lahir dan segera disembunyikan di tempat perlindungan. Anak-anak impala disusui selama empat hingga enam bulan; jantan muda, yang dipaksa keluar dari kelompok betina, bergabung dengan kawanan bujangan, sementara betina dapat tetap tinggal.

Impala ditemukan di hutan terbuka (lahan berkayu) dan terkadang di perbatasan (ekoton) antara hutan terbuka dan sabana; hewan ini menghuni tempat-tempat di dekat air. Sementara impala muka-hitam terbatas di barat daya Angola dan Kaokoland di barat laut Namibia, impala biasa tersebar luas di seluruh wilayah jelajahnya dan telah diintroduksi kembali di Gabon dan Afrika bagian selatan. Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengklasifikasikan impala sebagai spesies risiko rendah; subspesies muka-hitam diklasifikasikan sebagai spesies rentan, dengan kurang dari 1.000 individu yang tersisa di alam liar pada tahun 2008.

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Kata "impala"[3] dalam bahasa Indonesia kemungkinan berasal dari bahasa Inggris.[butuh rujukan] Nama Inggris pertama yang tercatat, pada tahun 1802, adalah palla atau pallah, dari Tswana phala 'antelop merah';[4] nama impala, yang juga dieja impalla atau mpala, pertama kali tercatat pada tahun 1875, dan berasal langsung dari Zulu.[5] Nama Afrikaans-nya, rooibok 'antelop merah', juga terkadang digunakan dalam bahasa Inggris.[6]

Nama generik ilmiah Aepyceros (lit. 'bertanduk-tinggi') berasal dari Yunani Kuno αἰπύς (aipus, 'tinggi, curam') + κέρας (keras, 'tanduk');[7][8] nama spesifik melampus (lit. 'kaki-hitam') dari μελάς (melas, 'hitam') + πούς (pous, 'kaki').[9]

Taksonomi dan evolusi

[sunting | sunting sumber]

Impala adalah satu-satunya anggota dari genus Aepyceros dan termasuk dalam famili Bovidae. Hewan ini pertama kali dideskripsikan oleh ahli zoologi Jerman Martin Hinrich Carl Lichtenstein pada tahun 1812.[2] Pada tahun 1984, ahli paleontologi Elisabeth Vrba berpendapat bahwa impala adalah takson saudari bagi alcelaphinae, mengingat kemiripannya dengan hartebeest.[10] Sebuah studi filogenetik tahun 1999 oleh Alexandre Hassanin (dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional, Paris) dan rekan-rekannya, berdasarkan analisis mitokondria dan inti, menunjukkan bahwa impala membentuk sebuah klad dengan suni (Neotragus moschatus). Klad ini merupakan saudari dari klad lain yang dibentuk oleh duiker teluk (Cephalophus dorsalis) dan klipspringer (Oreotragus oreotragus).[11] Analisis urutan inti rRNA dan β-spektrin pada tahun 2003 juga mendukung hubungan antara Aepyceros dan Neotragus.[12] Kladogram berikut didasarkan pada studi tahun 1999 tersebut:[11]

Domba (Ovis aries)

Bontebok (Damaliscus pygargus)

Antelop sable (Hippotragus niger)

Klipspringer (Oreotragus oreotragus)

Duiker teluk (Cephalophus dorsalis)

Impala (Aepyceros melampus)

Suni (Neotragus moschatus)

Gazel Grant (Nanger granti)

Reedbuck pegunungan (Redunca fulvorufula)

Hingga enam subspesies telah dideskripsikan, meskipun hanya dua yang umumnya diakui berdasarkan data mitokondria.[13] Meskipun mirip secara morfologis,[14] subspesies tersebut menunjukkan jarak genetik yang signifikan di antara mereka, dan tidak ada hibrida di antara mereka yang dilaporkan.[14][15]

  • A. m. melampus Lichtenstein, 1812: Dikenal sebagai impala biasa, subspesies ini terdapat di seluruh Afrika bagian timur dan selatan. Wilayah jelajahnya membentang dari Kenya bagian tengah hingga Afrika Selatan dan ke arah barat hingga Angola bagian tenggara.
  • A. m. petersi Bocage, 1879: Dikenal sebagai impala muka-hitam, subspesies ini terbatas di Afrika bagian barat daya, terdapat di Namibia bagian barat laut dan Angola bagian barat daya.

Menurut Vrba, impala berevolusi dari nenek moyang alcelaphinae. Ia mencatat bahwa sementara nenek moyang ini telah mengalami divergensi setidaknya 18 kali menjadi berbagai bentuk yang berbeda secara morfologis, impala tetap bertahan dalam bentuk dasarnya setidaknya selama lima juta tahun.[10][16] Beberapa spesies fosil telah ditemukan, termasuk A. datoadeni dari zaman Pliosen di Etiopia.[17] Fosil tertua yang ditemukan menunjukkan bahwa nenek moyang purbanya sedikit lebih kecil daripada bentuk modernnya, namun sangat mirip dalam segala aspek lainnya. Hal ini menyiratkan bahwa impala telah beradaptasi secara efisien dengan lingkungannya sejak zaman prasejarah. Sifatnya yang suka berkelompok, variasi dalam pola makan, tren populasi yang positif, pertahanan terhadap caplak dan hubungan simbiotik dengan burung oxpecker pemakan caplak mungkin berperan dalam mencegah perubahan besar pada morfologi dan perilakunya.[10]

Deskripsi

[sunting | sunting sumber]
Seekor jantan yang sedang bersolek di Taman Nasional Serengeti
Tampilan dekat seekor jantan, dengan tanduk berbentuk lira yang khas, ekor putih, dan beberapa tanda hitam

Impala adalah antelop berukuran sedang dan bertubuh ramping, yang sebanding dengan kob, puku, dan gazel grant dalam hal ukuran dan perawakan.[18] Panjang kepala dan tubuhnya sekitar 130 sentimeter (51 in).[19] Jantan mencapai tinggi sekitar 75–92 cm (30–36 in) pada bahu, sedangkan betina setinggi 70–85 cm (28–33 in).[18] Jantan biasanya memiliki berat 53–76 kilogram (117–168 pon) dan betina 40–53 kg (88–117 pon). Bersifat dimorfik seksual, betina tidak bertanduk dan lebih kecil daripada jantan. Jantan menumbuhkan tanduk ramping berbentuk lira sepanjang 45–92 cm (18–36 in).[18] Tanduknya, yang sangat berigi dan divergen (menyebar), berbentuk lingkaran pada penampangnya dan berongga di bagian pangkalnya. Strukturnya yang seperti lengkungan memungkinkan tanduk untuk saling mengunci, yang membantu seekor jantan menjatuhkan lawannya saat berkelahi; tanduk juga melindungi tengkorak dari kerusakan.[14][18]

Mantel impala yang mengilap menunjukkan pewarnaan dua nada  punggung cokelat kemerahan dan sisi tubuh berwarna cokelat kekuningan; ini sangat kontras dengan bagian bawah perut yang berwarna putih. Fitur wajah meliputi cincin putih di sekitar mata serta dagu dan moncong yang berwarna terang. Telinganya, yang sepanjang 17 cm (6,7 in), berujung hitam.[14][20] Garis-garis hitam memanjang dari pantat hingga tungkai belakang bagian atas. Ekor putih yang lebat, sepanjang 30 cm (12 in), memiliki garis hitam pekat di sepanjang garis tengahnya.[20] Pewarnaan impala memiliki kemiripan yang kuat dengan gerenuk, yang memiliki tanduk lebih pendek dan tidak memiliki garis paha hitam seperti impala.[14] Impala memiliki kelenjar bau yang tertutup oleh seberkas rambut hitam di tungkai belakang. Asam 2-metilbutanoat dan 2-nonanon telah diidentifikasi dari kelenjar ini.[21] Kelenjar sebasea yang terkonsentrasi di dahi dan tersebar di batang tubuh jantan dominan[18][22] paling aktif selama musim kawin, sementara kelenjar pada betina hanya berkembang sebagian dan tidak mengalami perubahan musiman.[23] Terdapat empat puting susu.[18]

Dari subspesies yang ada, impala muka-hitam secara signifikan lebih besar dan lebih gelap daripada impala biasa; melanisme bertanggung jawab atas pewarnaan hitam tersebut.[24] Ciri khas impala muka-hitam adalah garis gelap, di kedua sisi hidung, yang memanjang ke atas hingga ke mata dan menipis saat mencapai dahi.[19][20] Perbedaan lain termasuk ujung hitam yang lebih besar pada telinga, serta ekor yang lebih lebat dan hampir 30% lebih panjang pada impala muka-hitam.[14]

Impala memiliki susunan gigi khusus pada rahang bawah depan yang mirip dengan sisir gigi yang terlihat pada primata strepsirrhini,[25] yang digunakan selama menyelisik sosial untuk menyisir rambut di kepala dan leher serta menghilangkan ektoparasit.[14][26]

Ekologi dan perilaku

[sunting | sunting sumber]
Seekor impala di udara saat melompat
Impala dapat melompat setinggi 3 m (9,8 ft)

Impala bersifat diurnal (aktif terutama pada siang hari), meskipun aktivitas cenderung berhenti selama jam-jam tengah hari yang panas; mereka makan dan beristirahat pada malam hari.[18] Tiga kelompok sosial yang berbeda dapat diamati  jantan teritorial, kawanan bujangan, dan kawanan betina.[27] Jantan teritorial menguasai wilayah tempat mereka dapat membentuk harem betina; wilayah tersebut ditandai dengan urine dan feses serta dipertahankan dari penyusup remaja atau jantan lainnya.[18] Kawanan bujangan cenderung kecil, dengan anggota kurang dari 30 ekor. Individu menjaga jarak 25–3 m (82,0–9,8 ft) satu sama lain; sementara jantan muda dan tua mungkin berinteraksi, jantan paruh baya umumnya saling menghindar kecuali untuk berlatih tarung. Kawanan betina bervariasi ukurannya dari 6 hingga 100 ekor; kawanan ini menempati daerah jelajah seluas 80–180 ha (200–440 ekar; 0,31–0,69 sq mi). Ikatan induk–anak lemah, dan terputus segera setelah penyapihan; anak-anak yang beranjak remaja meninggalkan kawanan induknya untuk bergabung dengan kawanan lain. Kawanan betina cenderung longgar dan tidak memiliki kepemimpinan yang jelas.[18][28] Alogrooming (saling menyelisik) adalah sarana interaksi sosial yang penting dalam kawanan bujangan dan betina; faktanya, impala tampaknya menjadi satu-satunya ungulata yang melakukan swa-grooming (bersolek sendiri) maupun alogrooming. Dalam alogrooming, betina biasanya menyisir impala yang berkerabat, sedangkan jantan berasosiasi dengan individu yang tidak berkerabat. Setiap pasangan saling menyisir enam hingga dua belas kali.[29]

Seekor impala melakukan stotting

Perilaku sosial dipengaruhi oleh iklim dan geografi; dengan demikian, impala bersifat teritorial pada waktu-waktu tertentu dalam setahun dan gregarius (berkelompok) pada waktu lainnya, dan lamanya periode ini dapat sangat bervariasi antarpopulasi. Sebagai contoh, populasi di Afrika bagian selatan menunjukkan perilaku teritorial hanya selama beberapa bulan pada masa birahi, sedangkan pada populasi Afrika timur, teritorialitas relatif minimal meskipun musim kawinnya berkepanjangan. Terlebih lagi, jantan teritorial sering kali menoleransi pejantan bujangan, dan bahkan dapat berganti status antara menjadi bujangan dan pemegang wilayah pada waktu yang berbeda dalam setahun. Sebuah studi tentang impala di Taman Nasional Serengeti menunjukkan bahwa pada 94% jantan, sifat teritorial diamati selama kurang dari empat bulan.[18]

Impala adalah spesies mangsa penting bagi karnivora besar Afrika, seperti citah, macan tutul, anjing liar, singa, hiena, buaya, dan sanca. Antelop ini memperlihatkan dua jenis lompatan yang khas  ia dapat melompat setinggi 3 m (9,8 ft), melewati vegetasi dan bahkan impala lainnya, menempuh jarak hingga 10 m (33 ft); jenis lompatan lainnya melibatkan serangkaian lompatan di mana hewan ini mendarat dengan kaki depannya, menggerakkan kaki belakangnya di udara dengan gaya menendang, mendarat dengan keempat kakinya (stotting), dan kemudian melambung kembali. Ia melompat dengan salah satu cara tersebut ke arah yang berbeda-beda, kemungkinan untuk membingungkan predator.[14][30] Terkadang, impala juga dapat menyembunyikan diri di vegetasi untuk menghindari penglihatan predator.[31] Vokalisasi yang paling menonjol adalah auman yang keras, yang dikeluarkan melalui satu hingga tiga dengusan keras dengan mulut tertutup, diikuti oleh dua hingga sepuluh geraman dalam dengan mulut terbuka serta dagu dan ekor terangkat; auman yang khas dapat terdengar hingga jarak 2 km (1,2 mi).[18] Sekresi kelenjar bau mengidentifikasi seekor jantan teritorial.[32] Impala bersifat sedenter; jantan dewasa dan paruh baya, khususnya, dapat mempertahankan wilayah mereka selama bertahun-tahun.[18]

Caplak iksodid umum yang dikoleksi dari impala meliputi Amblyomma hebraeum, Boophilus decoloratus, Hyalomma marginatum, Ixodes cavipalpus, Rhipicephalus appendiculatus, dan R. evertsi.[33][34][35] Di Zimbabwe, infestasi berat oleh caplak seperti R. appendiculatus terbukti menjadi penyebab utama di balik tingginya kematian ungulata, karena caplak tersebut dapat menyebabkan kelumpuhan akibat caplak. Impala memiliki adaptasi khusus untuk bersolek, seperti susunan gigi yang khas, untuk mengendalikan caplak sebelum mereka membengkak (karena darah); namun, aktivitas bersolek ekstensif yang diperlukan untuk mengendalikan beban caplak melibatkan risiko dehidrasi selama musim panas, kewaspadaan yang lebih rendah terhadap predator, dan keausan gigi secara bertahap. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa impala menyesuaikan waktu yang dicurahkan untuk bersolek dan jumlah sesi bersolek sesuai dengan prevalensi musiman caplak.[33]

Impala berhubungan secara simbiotik dengan burung pematuk-lembu,[36] yang memakan caplak dari bagian-bagian tubuh antelop yang tidak dapat dijangkau sendiri oleh hewan tersebut (seperti telinga, leher, kelopak mata, dahi, dan perut bagian bawah). Impala adalah ungulata terkecil yang diasosiasikan dengan pematuk-lembu. Dalam sebuah penelitian, diamati bahwa pematuk-lembu secara selektif mendatangi impala meskipun ada hewan lain seperti hartebeest Coke, gazel Grant, gazel Thomson, dan topi. Penjelasan yang mungkin untuk hal ini adalah karena impala menghuni hutan jarang (yang dapat memiliki kepadatan caplak yang tinggi), impala mungkin memiliki massa caplak yang lebih besar per unit area permukaan tubuh.[37] Studi lain menunjukkan bahwa pematuk-lembu lebih menyukai telinga daripada bagian tubuh lainnya, mungkin karena bagian ini menunjukkan infestasi caplak yang maksimal.[38] Burung ini juga telah diamati bertengger di ambing betina dan mencuri susunya.[39]

Kutu yang tercatat pada impala meliputi Damalinia aepycerus, D. elongata, Linognathus aepycerus, dan L. nevilli; dalam sebuah studi, ivermectin (obat untuk melawan parasit) ditemukan memiliki efek pada spesies Boophilus decoloratus dan Linognathus, meskipun tidak pada spesies Damalinia.[40] Dalam sebuah studi terhadap impala di Afrika Selatan, jumlah cacing pada remaja menunjukkan peningkatan seiring bertambahnya usia, mencapai puncaknya ketika impala berusia satu tahun. Studi ini mencatat cacing dari genus seperti Cooperia, Cooperoides, Fasciola, Gongylonema. Haemonchus, Impalaia, Longistrongylus, dan Trichostrongylus; beberapa di antaranya menunjukkan variasi musiman dalam hal kepadatan.[41]

Impala menunjukkan frekuensi perilaku defensif yang tinggi terhadap serangga terbang.[42] Ini mungkin menjadi alasan mengapa Vale (1977) dan Clausen dkk. (1998) hanya menemukan tingkat jejak aktivitas makan oleh Glossina (lalat tsetse) pada impala.[42]

Theileria impala di Kenya tidak menular silang ke sapi: Grootenhuis dkk. (1975) tidak dapat menginduksi infeksi pada sapi dan Fawcett dkk. (1987) tidak menemukannya terjadi secara alami.[43]

Pola makan

[sunting | sunting sumber]
Kawanan yang sedang merumput di Maasai Mara

Impala meramban sekaligus merumput; salah satunya mungkin mendominasi, tergantung pada ketersediaan sumber daya.[44] Makanannya terdiri dari monokotil, dikotil, herba berdaun lebar [en], buah-buahan, dan polong akasia (kapan pun tersedia). Impala menyukai tempat-tempat yang dekat dengan sumber air, dan beralih ke vegetasi sukulen jika air langka.[18] Sebuah analisis menunjukkan bahwa makanan impala terdiri dari 45% monokotil, 45% dikotil, dan 10% buah-buahan; proporsi rumput dalam makanannya meningkat secara signifikan (hingga mencapai 90%) setelah hujan pertama, namun menurun pada musim kemarau.[45] Aktivitas meramban mendominasi pada akhir musim hujan dan musim kemarau, dan makanan menjadi miskin nutrisi pada pertengahan musim kemarau, ketika impala sebagian besar memakan dikotil berkayu.[14][46] Studi lain menunjukkan bahwa proporsi dikotil dalam makanan jauh lebih tinggi pada pejantan bujangan dan betina dibandingkan pada jantan teritorial.[47]

Impala memakan rumput yang lunak dan bergizi seperti Digitaria macroblephara; rumput yang keras dan tinggi, seperti Heteropogon contortus dan Themeda triandra, biasanya dihindari.[48] Impala yang berada di pinggiran kawanan umumnya lebih waspada terhadap predator dibandingkan mereka yang makan di tengah; individu yang sedang mencari makan akan mencoba mempertahankan area makannya dengan menundukkan kepalanya.[49] Sebuah studi mengungkapkan bahwa waktu yang dihabiskan untuk mencari makan mencapai maksimum 75,5% dari waktu sehari pada akhir musim kemarau, menurun sepanjang musim hujan, dan minimal pada awal musim kemarau (57,8%).[50]

Reproduksi

[sunting | sunting sumber]
Jantan mengunci tanduk dalam pertarungan kawin
Dua pejantan bertarung demi dominasi

Jantan mencapai kematangan seksual pada saat mereka berusia satu tahun, meskipun perkawinan yang sukses umumnya baru terjadi setelah empat tahun. Jantan dewasa mulai membangun wilayah kekuasaan dan mencoba mendapatkan akses ke betina. Betina dapat bunting setelah berusia satu setengah tahun; estrus berlangsung selama 24 hingga 48 jam, dan terjadi setiap 12–29 hari pada betina yang tidak bunting.[31] Rut (musim kawin) tahunan selama tiga minggu dimulai menjelang akhir musim hujan, biasanya pada bulan Mei. Pertumbuhan gonad dan produksi hormon pada jantan dimulai beberapa bulan sebelum musim kawin, yang mengakibatkan agresivitas dan sifat teritorial yang lebih besar.[18] Kelenjar bulbouretra menjadi lebih berat, kadar testosteron hampir dua kali lebih tinggi pada jantan teritorial dibandingkan pada jantan bujangan,[51] dan leher jantan teritorial cenderung lebih tebal daripada leher jantan bujangan selama masa rut. Perkawinan cenderung terjadi di antara waktu bulan purnama.[18]

Suara pejantan yang sedang birahi

Jantan yang sedang birahi bertarung memperebutkan dominasi, sering kali mengeluarkan auman bising dan saling mengejar; mereka berjalan dengan kaku dan memamerkan leher serta tanduknya. Jantan berhenti makan dan melakukan alogrooming selama masa rut, mungkin untuk mencurahkan lebih banyak waktu guna mengumpulkan betina yang sedang estrus;[52] jantan memeriksa urine betina untuk memastikan bahwa ia sedang estrus.[53][52] Saat menemukan betina seperti itu, jantan yang bersemangat memulai percumbuan dengan mengejarnya, menjaga jarak 3–5 meter (9,8–16,4 ft) darinya. Jantan menjulurkan lidahnya dan mungkin mengangguk dengan kuat; betina membiarkannya menjilati vulvanya, dan menahan ekornya ke satu sisi. Jantan mencoba menaiki betina, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan mendekap sisi tubuh betina dengan kaki depannya. Upaya menaiki dapat diulang setiap beberapa detik hingga setiap satu atau dua menit. Jantan kehilangan minat pada betina setelah kopulasi pertama, meskipun betina tersebut masih aktif dan dapat kawin dengan jantan lain.[18][27]

Masa kehamilan berlangsung enam hingga tujuh bulan. Kelahiran umumnya terjadi pada tengah hari; betina akan memisahkan diri dari kawanan ketika nyeri persalinan dimulai.[54] Namun, anggapan bahwa betina dapat menunda kelahiran selama satu bulan tambahan jika kondisinya buruk mungkin tidak realistis.[55] Seekor anak lahir, dan segera disembunyikan di tempat perlindungan selama beberapa minggu pertama kelahirannya. Anak tersebut kemudian bergabung dengan kelompok pengasuhan di dalam kawanan induknya. Anak-anak disusui selama empat hingga enam bulan; jantan muda, yang dipaksa keluar dari kelompok, bergabung dengan kawanan bujangan, sementara betina dapat tetap tinggal.[18]

Sebaran dan habitat

[sunting | sunting sumber]
Sebuah kawanan di Tanzania
Impala menghuni hutan terbuka

Impala menghuni hutan terbuka karena kesukaannya akan naungan. Hewan ini juga dapat ditemukan di perbatasan (ekoton) antara hutan terbuka dan sabana. Tempat-tempat di dekat sumber air lebih disukai. Di Afrika bagian selatan, populasi cenderung berasosiasi dengan hutan terbuka Colophospermum mopane dan Acacia.[18][44] Pilihan habitat berbeda secara musiman, hutan terbuka Acacia senegal lebih disukai pada musim hujan, dan sabana A. drepanolobium pada musim kemarau. Faktor lain yang dapat memengaruhi pemilihan habitat adalah kerentanan terhadap predator; impala cenderung menjauhi area dengan rerumputan tinggi karena predator dapat bersembunyi di sana.[48] Sebuah studi menemukan bahwa berkurangnya tutupan hutan terbuka dan terciptanya semak belukar oleh gajah semak afrika telah menguntungkan populasi impala dengan meningkatkan ketersediaan pakan rambanan musim kemarau. Sebelumnya, hutan terbuka Baikiaea, yang kini telah menurun akibat gajah, menyediakan sedikit rambanan bagi impala. Semak belukar Capparis yang baru terbentuk, di sisi lain, bisa menjadi habitat meramban yang utama.[56] Impala umumnya tidak berasosiasi dengan habitat pegunungan;[14] namun, di KwaZulu-Natal, impala telah tercatat pada ketinggian hingga 1,400 meter (4,59 ft) di atas permukaan laut.[44]

Wilayah jelajah historis impala, yang membentang melintasi Afrika bagian selatan dan timur, sebagian besar masih utuh, meskipun telah menghilang dari beberapa tempat, seperti Burundi. Wilayah jelajahnya membentang dari Kenya bagian tengah dan selatan serta Uganda timur laut di timur hingga KwaZulu-Natal utara di selatan, dan ke arah barat hingga Namibia dan Angola selatan. Impala muka-hitam terbatas di Angola barat daya dan Kaokoland di Namibia barat laut; status subspesies ini belum dipantau sejak tahun 2000-an. Impala biasa memiliki sebaran yang lebih luas, dan telah diintroduksi di kawasan lindung di Gabon dan di seluruh Afrika bagian selatan.[1]

Ancaman dan konservasi

[sunting | sunting sumber]
Impala di Taman Nasional Kruger, Afrika Selatan
Jejak kaki impala

Uni Internasional untuk Konservasi Alam dan Sumber Daya Alam (IUCN) mengklasifikasikan impala sebagai spesies risiko rendah secara keseluruhan.[1] Akan tetapi, impala muka-hitam diklasifikasikan sebagai spesies rentan; pada tahun 2008, diperkirakan kurang dari 1.000 ekor berada di alam liar.[57] Meskipun tidak ada ancaman besar terhadap kelangsungan hidup impala biasa, perburuan liar dan bencana alam telah berkontribusi secara signifikan terhadap penurunan impala muka-hitam. Pada tahun 2008, populasi impala biasa diperkirakan sekitar dua juta ekor.[1] Menurut beberapa studi, translokasi impala muka-hitam bisa sangat bermanfaat dalam konservasinya.[58][59]

Sekitar seperempat populasi impala biasa terdapat di kawasan lindung, seperti Delta Okavango (Botswana); Masai Mara dan Kajiado (Kenya); Taman Nasional Kruger (Afrika Selatan); Ruaha dan Taman Nasional Serengeti serta Cagar Buru Selous (Tanzania); Lembah Luangwa (Zambia); Hwange, Sebungwe, dan Lembah Zambezi (Zimbabwe). Impala muka-hitam yang langka telah diintroduksi ke peternakan pribadi di Namibia dan Taman Nasional Etosha. Kepadatan populasi sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain; dari kurang dari satu impala per kilometer persegi di Taman Nasional Mkomazi (Tanzania) hingga mencapai 135 per kilometer persegi di dekat Danau Kariba (Zimbabwe).[1][60]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 IUCN SSC Antelope Specialist Group (2016). "Aepyceros melampus". 2016 e.T550A50180828. doi:10.2305/IUCN.UK.2016-2.RLTS.T550A50180828.en. ;
  2. 1 2 Grubb, P. (2005). "Order Artiodactyla". Dalam Wilson, D. E.; Reeder, D. M (ed.). Mammal Species of the World (Edisi 3). Percetakan Unoversitas Johns Hopkins. hlm. 673. ISBN 978-0-8018-8221-0. OCLC 62265494. ;
  3. Arti kata GALAT! URL tidak ditemukan atau tidak sah. dalam situs web {{{ver}}} oleh lembaga penyusun kamus.
  4. Oxford English Dictionary, 3rd edition, March 2005, s.v. pallah
  5. Oxford English Dictionary Supp., 1933, s.v.
  6. Oxford English Dictionary, 3rd edition, November 2010, s.v.
  7. "Aepyceros". Merriam-Webster Dictionary. Diakses tanggal 10 April 2016.
  8. Briggs, M.; Briggs, P. (2006). The Encyclopedia of World Wildlife. Somerset, UK: Parragon Publishers. hlm. 114. ISBN 978-1-4054-8292-9.
  9. Huffman, B. "Impala (Aepyceros melampus)". Ultimate Ungulate. Diakses tanggal 10 April 2016.
  10. 1 2 3 Vrba, E.S. (1984). "Evolutionary pattern and process in the sister-group Alcelaphini-Aepycerotini (Mammalia: Bovidae)". Dalam Eldredge, N.; Stanley, S.M. (ed.). Living Fossils. New York, USA: Springer. ISBN 978-1-4613-8271-3. OCLC 10403493.
  11. 1 2 Hassanin, A.; Douzery, E.J.P. (1999). "Evolutionary affinities of the enigmatic saola (Pseudoryx nghetinhensis) in the context of the molecular phylogeny of Bovidae". Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences. 266 (1422): 893–900. doi:10.1098/rspb.1999.0720. PMC 1689916. PMID 10380679. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  12. Kuznetsova, M.V.; Kholodova, M.V. (2003). "Revision of phylogenetic relationships in the Antilopinae subfamily on the basis of the mitochondrial rRNA and β-spectrin nuclear gene sequences". Doklady Biological Sciences. 391 (1–6): 333–6. doi:10.1023/A:1025102617714. ISSN 1608-3105. PMID 14556525. S2CID 30920084.
  13. Nersting, L.G.; Arctander, P. (2001). "Phylogeography and conservation of impala and greater kudu". Molecular Ecology. 10 (3): 711–9. Bibcode:2001MolEc..10..711N. doi:10.1046/j.1365-294x.2001.01205.x. PMID 11298982. S2CID 23102044.
  14. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kingdon, J.; Happold, D.; Butynski, T.; Happold, M.; Hoffmann, M.; Kalina, J. (2013). Mammals of Africa. London, UK: Bloomsbury Publishing Plc. hlm. 479–84. ISBN 978-1-4081-8996-2. OCLC 854973585.
  15. Lorenzen, E.D.; Arctander, P.; Siegismund, H.R. (2006). "Regional genetic structuring and evolutionary history of the impala (Aepyceros melampus)". Journal of Heredity. 97 (2): 119–32. doi:10.1093/jhered/esj012. PMID 16407525. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  16. Arctander, P.; Kat, P.W.; Simonsen, B.T.; Siegismund, H.R. (1996). "Population genetics of Kenyan impalas – consequences for conservation". Dalam Smith, T.B.; Wayne, R.K. (ed.). Molecular Genetic Approaches in Conservation. Oxford, UK: Oxford University Press. hlm. 399–412. ISBN 978-0-19-534466-0. OCLC 666957480.
  17. Geraads, D.; Bobe, R.; Reed, K. (2012). "Pliocene Bovidae (Mammalia) from the Hadar Formation of Hadar and Ledi-Geraru, Lower Awash, Ethiopia". Journal of Vertebrate Paleontology. 32 (1): 180–97. Bibcode:2012JVPal..32..180G. doi:10.1080/02724634.2012.632046. S2CID 86230742.
  18. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Estes, R.D. (2004). The Behavior Guide to African Mammals: Including Hoofed Mammals, Carnivores, Primates (Edisi 4th). Berkeley, US: University of California Press. hlm. 158–66. ISBN 978-0-520-08085-0. OCLC 19554262.
  19. 1 2 Liebenberg, L. (1990). A Field Guide to the Animal Tracks of Southern Africa. Cape Town, South Africa: D. Philip. hlm. 275–6. ISBN 978-0-86486-132-0. OCLC 24702472.
  20. 1 2 3 Stuart, C.; Stuart, T. (2001). Field Guide to Mammals of Southern Africa (Edisi 3rd). Cape Town, South Africa: Struik Publishers. hlm. 210. ISBN 978-1-86872-537-3. OCLC 46643659.
  21. Wood, William F. (1997). "2-Methylbutanoic Acid and 2-Nonanone from the Metatarsal Glands of Impala, Aepyceros melampus". Biochemical Systematics and Ecology. 25 (3): 275. Bibcode:1997BioSE..25..275W. doi:10.1016/S0305-1978(97)00011-2.
  22. Armstrong, M. (2007). Wildlife and Plants. Vol. 9 (Edisi 3rd). New York, US: Marshall Cavendish. hlm. 538–9. ISBN 978-0-7614-7693-1. OCLC 229311414.
  23. Welsch, U.; van Dyk, G.; Moss, D.; Feuerhake, F. (1998). "Cutaneous glands of male and female impalas (Aepyceros melampus): seasonal activity changes and secretory mechanisms". Cell and Tissue Research. 292 (2): 377–94. doi:10.1007/s004410051068. PMID 9560480. S2CID 3127722.
  24. Hoven, W. (2015). "Private game reserves in southern Africa". Dalam van der Duim, R.; Lamers, M.; van Wijk, J. (ed.). Institutional Arrangements for Conservation, Development and Tourism in Eastern and Southern Africa. Dordrecht, Netherlands: Springer. hlm. 101–18. ISBN 978-94-017-9528-9. OCLC 895661132.
  25. McKenzie, A.A. (1990). "The ruminant dental grooming apparatus". Zoological Journal of the Linnean Society. 99 (2): 117–28. doi:10.1111/j.1096-3642.1990.tb00564.x.
  26. Mills, G.; Hes, L. (1997). The Complete Book of Southern African Mammals (Edisi 1st). Cape Town, South Africa: Struik Publishers. hlm. 271. ISBN 978-0-947430-55-9. OCLC 37480533.
  27. 1 2 Schenkel, R. (1966). "On sociology and behaviour in impala (Aepyceros melampus) Lichtenstein". African Journal of Ecology. 4 (1): 99–114. Bibcode:1966AfJEc...4...99S. doi:10.1111/j.1365-2028.1966.tb00887.x.
  28. Murray, M.G. (1981). "Structure of association in impala, Aepyceros melampus". Behavioral Ecology and Sociobiology. 9 (1): 23–33. Bibcode:1981BEcoS...9...23M. doi:10.1007/BF00299849. S2CID 24117010.
  29. Hart, B.L.; Hart, L.A. (1992). "Reciprocal allogrooming in impala, Aepyceros melampus". Animal Behaviour. 44 (6): 1073–1083. doi:10.1016/S0003-3472(05)80319-7. S2CID 53165208.
  30. "Impala: Aepyceros melampus". National Geographic. 11 April 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 7 February 2010. Diakses tanggal 6 May 2014.
  31. 1 2 Nowak, R.M. (1999). Walker's Mammals of the World. Vol. 2 (Edisi 6th). Baltimore, USA: Johns Hopkins University Press. hlm. 1194–6. ISBN 978-0-8018-5789-8. OCLC 39045218.
  32. Kingdon, J. (1989). East African Mammals: An Atlas of Evolution in Africa. Vol. 3. London, UK: Academic Press. hlm. 462–74. ISBN 978-0-226-43725-5. OCLC 48864096.
  33. 1 2 Mooring, M.S. (1995). "The effect of tick challenge on grooming rate by impala" (PDF). Animal Behaviour. 50 (2): 377–92. doi:10.1006/anbe.1995.0253. S2CID 53185353. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 12 October 2016.
  34. Gallivan, G.J.; Culverwell, J.; Girdwood, R.; Surgeoner, G.A. (1995). "Ixodid ticks of impala (Aepyceros melampus) in Swaziland: effect of age class, sex, body condition and management". South African Journal of Zoology. 30 (4): 178–86. doi:10.1080/02541858.1995.11448385. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  35. Horak, I.G. (1982). "Parasites of domestic and wild animals in South Africa. XV. The seasonal prevalence of ectoparasites on impala and cattle in the Northern Transvaal". The Onderstepoort Journal of Veterinary Research. 49 (2): 85–93. PMID 7177586.
  36. Mikula P, Hadrava J, Albrecht T, Tryjanowski P. (2018) Large-scale assessment of commensalistic–mutualistic associations between African birds and herbivorous mammals using internet photos. PeerJ 6:e4520 https://doi.org/10.7717/peerj.4520
  37. Hart, B.L.; Hart, L.A.; Mooring, M.S. (1990). "Differential foraging of oxpeckers on impala in comparison with sympatric antelope species". African Journal of Ecology. 28 (3): 240–9. Bibcode:1990AfJEc..28..240H. doi:10.1111/j.1365-2028.1990.tb01157.x. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  38. Mooring, M.S.; Mundy, P.J. (1996). "Interactions between impala and oxpeckers at Matobo National Park, Zimbabwe". African Journal of Ecology. 34 (1): 54–65. Bibcode:1996AfJEc..34...54M. doi:10.1111/j.1365-2028.1996.tb00594.x. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  39. Hussain Kanchwala (2022). "How Did We Start Drinking Milk Of The Ruminants? Are We The Only Species To Drink Milk Of Other Species?". ScienceABC.
  40. Horak, I.G.; Boomker, J.; Kingsley, S.A.; De Vos, V. (1983). "The efficacy of ivermectin against helminth and arthropod parasites of impala". Journal of the South African Veterinary Association. 54 (4): 251–3. PMID 6689430.
  41. Horak, I.G. (1978). "Parasites of domestic and wild animals in South Africa. X. Helminths in impala". The Onderstepoort Journal of Veterinary Research. 45 (4): 221–8. PMID 572950.
  42. 1 2 Auty, Harriet; Morrison, Liam J.; Torr, Stephen J.; Lord, Jennifer (2016). "Transmission Dynamics of Rhodesian Sleeping Sickness at the Interface of Wildlife and Livestock Areas" (PDF). Trends in Parasitology. 32 (8). Cell Press: 608–621. doi:10.1016/j.pt.2016.05.003. ISSN 1471-4922. PMID 27262917.
  43. Grootenhuis, J.G.; Olubayo, R.O. (1993). "Disease research in the wildlife-livestock interface in Kenya". Veterinary Quarterly. 15 (2). Royal Netherlands Veterinary Association+Flemish Veterinary Association (T&F): 55–59. doi:10.1080/01652176.1993.9694372. ISSN 0165-2176. PMID 8372423.
  44. 1 2 3 Skinner, J.D.; Chimimba, C.T. (2005). The Mammals of the Southern African Subregion (Edisi 3rd). Cambridge, UK: Cambridge University Press. hlm. 703–8. ISBN 978-0-521-84418-5. OCLC 62703884.
  45. Meissner, H.H.; Pieterse, E.; Potgieter, J.H.J. (1996). "Seasonal food selection and intake by male impala Aepyceros melampus in two habitats". South African Journal of Wildlife Research. 26 (2): 56–63. ISSN 0379-4369.
  46. Dunham, K. M. (2009). "The diet of impala (Aepyceros melampus) in the Sengwa Wildlife Research Area, Rhodesia". Journal of Zoology. 192 (1): 41–57. doi:10.1111/j.1469-7998.1980.tb04218.x.
  47. van Rooyen, A.F.; Skinner, J.D. (1989). "Dietary differences between the sexes in impala". Transactions of the Royal Society of South Africa. 47 (2): 181–5. doi:10.1080/00359198909520161.
  48. 1 2 Jarman, P.J.; Sinclair, A.R.E. (1984). "Feeding strategy and the pattern of resource partitioning in ungulates". Dalam Sinclair, A.R.E.; Norton-Griffths, M. (ed.). Serengeti, Dynamics of an Ecosystem. Chicago, US: University of Chicago Press. hlm. 130–63. ISBN 978-0-226-76029-2. OCLC 29118101.
  49. Blanchard, P.; Sabatier, R.; Fritz, H. (2008). "Within-group spatial position and vigilance: a role also for competition? The case of impalas (Aepyceros melampus) with a controlled food supply". Behavioral Ecology and Sociobiology. 62 (12): 1863–8. Bibcode:2008BEcoS..62.1863B. doi:10.1007/s00265-008-0615-3. S2CID 11796268.
  50. Wronski, T. (September 2002). "Feeding ecology and foraging behaviour of impala Aepyceros melampus in Lake Mburo National Park, Uganda". African Journal of Ecology. 40 (3): 205–11. Bibcode:2002AfJEc..40..205W. doi:10.1046/j.1365-2028.2002.00348.x.
  51. Bramley, P.S.; Neaves, W.B. (1972). "The relationship between social status and reproductive activity in male impala, Aepyceros melampus" (PDF). Journal of Reproduction and Fertility. 31 (1): 77–81. doi:10.1530/jrf.0.0310077. PMID 5078117.
  52. 1 2 Mooring, M. S.; Hart, B. L. (1995). "Differential grooming rate and tick load of territorial male and female impala". Behavioral Ecology. 6 (1): 94–101. doi:10.1093/beheco/6.1.94.
  53. Hart, Lynette A., and Benjamin L. Hart. "Species-specific patterns of urine investigation and flehmen in Grant's gazelle (Gazella granti), Thomson's gazelle (G. thomsoni), impala (Aepyceros melampus), and eland (Taurotragus oryx)." Journal of Comparative Psychology 101.4 (1987): 299.
  54. Jarman, M.V. (1979). Impala Social Behaviour: Territory, Hierarchy, Mating, and the Use of Space. Berlin, Germany: Parey. hlm. 1–92. ISBN 978-3-489-60936-0. OCLC 5638565.
  55. D'Araujo, Shaun (20 November 2016). "Can Impala Really Delay Their Births?". Londolozi Blog.
  56. Rutina, L.P.; Moe, S.R.; Swenson, J.E. (2005). "Elephant Loxodonta africana driven woodland conversion to shrubland improves dry-season browse availability for impalas Aepyceros melampus". Wildlife Biology. 11 (3): 207–13. doi:10.2981/0909-6396(2005)11[207:ELADWC]2.0.CO;2. S2CID 84372708.
  57. IUCN SSC Antelope Specialist Group (2017). "Aepyceros melampus ssp. petersi". 2017 e.T549A50180804. doi:10.2305/IUCN.UK.2017-2.RLTS.T549A50180804.en. ;
  58. Green, W.C.H.; Rothstein, A. (2008). "Translocation, hybridisation, and the endangered black-faced impala". Conservation Biology. 12 (2): 475–80. doi:10.1111/j.1523-1739.1998.96424.x. S2CID 85717262.
  59. Matson, T.; Goldizen, A.W.; Jarman, P.J. (2004). "Factors affecting the success of translocations of the black-faced impala in Namibia". Biological Conservation. 116 (3): 359–65. Bibcode:2004BCons.116..359M. doi:10.1016/S0006-3207(03)00229-5.
  60. East, R. (1999). African Antelope Database 1998. Gland, Switzerland: IUCN Species Survival Commission. hlm. 238–41. ISBN 978-2-8317-0477-7. OCLC 44634423.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]